ALIRAN MODERN DALAM ISLAM MENURUT PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN


BAB I
PENDAHULUAN

Gugusan pemikiran yang berpayung modernisme dan liberalisme kemudian bukan semata konsumsi dan “monopoli” kalangan Islam perkotaan. Para akademisi, mahasiswa dan aktivis kajian di berbagai tempat, mulai menjadikan wacana ini sebagai paradigma baru pemikiran Islam. Azyumardi Azra, dalam pengantar buku ini menjelaskan bahwa satu hal yang cukup menguntungkan bagi gerakan Islam liberal (di) Indonesia, adalah kian dianutnya paradigma ini oleh segmen anak muda. Menurut Azra, dalam perkembangannya, neo-modernisme Islam telah menjelma menjadi wacana yang tidak terbatas pada kelompok yang dulu dianggap sebagai perintis pembaruan, seperti Muhammadiyah saja. Tapi juga telah menyebar ke dalam kaukus-kaukus muda yang berasal dari pesantren dan pedesaan. Salah satu contohhnya adalah Abd. A’la, penulis buku ini. Secara praktis, paham Islam liberal sama sekali tidak menginginkan adanya segala bentuk formalisasi serta radikalisasi sikap keagamaan.
Seballiknya, ia cenderung menempatkan Islam sebagai sebuah sistem dan tatanan nilai yang harus dibumikan selaras dengan tafsir serta tuntunan zaman yang kian dinamis. Watak pemikirannya yang inkluisif, moderat, dan plural mengiringinya untuk membentuk sikap keagamaan yang menghargai timbulnya perbedaan. Tentu saja dengan tetap menggunakan bingkai pemikiran keislaman yang viable, murni (genuine) dan tetap berpijak kukuh pada tradisi.
Berlatar panorama di atas, orang kemudian mulai menghubungkan wacana semacam ini dengan paradigma pemikiran yang diusung oleh intelektual muslim terkemuka, Fazlur rahman. Tokoh reformis asal Pakistan ini, dinilai memiliki andilbesar dan pengaruh yang sangat kuat bagi berseminya wacana Islam libeeral di Indonesia. Hal ini antara lain dapat dirujuk dari kedekatan Fazlur dengan Cak Nur, plopor dari gerakan pembaruan Islam di Indonesia. Kebetulan, cak Nur beserta beberapa tokoh dari Indonesia (antara lain Syafi’i Ma’arif) sempat berhubungan dan berguru langsung dengan Fazlur Rahman. Cukup wajar jika pada akhirnya peran fazlur Rahman disbut-sebut sebagai “ikon” yang melekat dalam aliran pemikiran Islam modern di negeri ini. Pada konteks itulah, buku ini hendak melacak sejauhmana pengaruh Fazlur Rahman terhadap pemahaman keislaman di Indonesia.
Penyikapan akan hal tersebut, menurut A’la terasa penting disebabkan perlunya korelasi yang jelas antara kontriksi pemikiran yang dibentuk (liberalisme) dengan landasan ideal yang menjadi pilar penyangganya. Dalam pandangan A’la, terdapat  setidaknya dua signifikan yang bias dipungut dari pengetahuan kita akan hal tersebut. Pertama, secara teoritis keilmuan, warisan pemikiran yang digagas Fazlur, kelak berhasil menjadi arus utamma (mainstream) bagi gerakan pembaharuan Islam berikut pembiakannya di Indonesia. Pada titik inilah, gagasan ideal Fazlur sepenuhnya tak dapat dipisahkan dengan wacana keagamaan yang hegemonic di nusantara. Betapa kita lihat, pelbagai gagasannya (antara lain yang sangat menonjol adalah ide penafsiran Al-Qur’an dan hadits secara rekonstruktif dan “hidup”) telah menjadi topic penting dari beragam diskusi yang marak digelar diberbagai tempat. Kedua, pemikiran fazlur pada akhirna menawarkan alternative baru serta perspektif lain bagi kesadaran teologi (sebagian) umat Islam di Indonesia. Konsep pendekatan holistic  (ang dikenal dengan teologi Qur’ani) yang disodorkanna, sertamerta telah membuka cakrawala pandang baru ang lebih fungsional, liberal, dan applicable dalam merespon problema social kemanusiaan mutakhir. Penelusuran Abd. A’la dalam buku ini akhirnya bermuara pada sebuah kesimpulan bahwa cita pembaruan yang ditularkan Fazlur Rahman bagi paradigma keislaman di Indonesia telah menampakan hasil yang gemilang. Bukan saja dari tawaran pembaharuan yang diretasnya, namun lebih dari itu, ia meniasakan sejumlah “organism” pemikiran yang sangat berharga dan sarat dengan nilai-nilai liberal yang kontestual, transformative, dan juga otentik.
Oleh karenanyam ke depan diskursus Islam liberal di Indonesia tetap layak untuk digulirkan dan dikaji secara lebih menarik. Di tengah kondisi kehidupan manusia dalam global village ini, Islam liberal bias hadir sebagai “mazhab” perekat solidaritas social yang senantiasa mengupayakan keadilan beragama serta keberagaman yang adil. Pada titik inilah, karya Abd. A’la ini berperan sebagai wahana kreasi ulang (re-creation) bagi kiprah dan perjalanan pembaruan Islam di tanah air. Kini dan di masa mendatang, ia diharapkan akan menjadi cermin cemerlang bagi lahirnya iklim keberagaman yang damai dan lapang. .....

Untuk lebih lengkapnya mengenai makalah dengan judul "Aliran Modern dalam Islam Menurut Pemikiran Fazlur Rahman" silahkan tinggal download di sini : download  

0 komentar:

Poskan Komentar